Bagi
Bagi

Bagi

Akane
Akane

Akane

Akan
Akan

Akan

Bhd
Bhd

Bhd

Orang
Orang

Orang

Version
Version

Version

Akanator
Akanator

Akanator

Kena
Kena

Kena

Yang
Yang

Yang

dan
 dan

dan

🔥 | Latest

Agama: Kestrel giving a Rainbow Agama a ride with a view.
Agama: Kestrel giving a Rainbow Agama a ride with a view.

Kestrel giving a Rainbow Agama a ride with a view.

Agama: The "Spider-Man Lizard" or the Mwanza flat-headed rock agama is found in Tanzania, Rwanda, and Kenya
Agama: The "Spider-Man Lizard" or the Mwanza flat-headed rock agama is found in Tanzania, Rwanda, and Kenya

The "Spider-Man Lizard" or the Mwanza flat-headed rock agama is found in Tanzania, Rwanda, and Kenya

Agama: Beautiful looking agama lizard
Agama: Beautiful looking agama lizard

Beautiful looking agama lizard

Agama: O Willem Van Zyl Southern Rock Agama (Agama atra) male from Clanwilliam, South Africa.
Agama: O Willem Van Zyl
Southern Rock Agama (Agama atra) male from Clanwilliam, South Africa.

Southern Rock Agama (Agama atra) male from Clanwilliam, South Africa.

Agama: OWillem Van Zyl Southern Rock Agama (Agama atra) female from Clanwilliam, South Africa.
Agama: OWillem Van Zyl
Southern Rock Agama (Agama atra) female from Clanwilliam, South Africa.

Southern Rock Agama (Agama atra) female from Clanwilliam, South Africa.

Agama: kepada rakyat UALA LUMPUR 31 Ogos - KTema Hari Kebangsaan tahun ini - Wawasan 2020 - telah mem- beri semangat baru kepada selu- ruh rakyat Malaysia untuk berusa- ha dengan lebih gigih bagi men- capai matlamat yang diilhamkan oleh Perdana Menteri. Dalam tinjauan yang dibuat oleh Mingguan Malaysia hari ini, orang ramai berpendapat, sema- ngat Wawasan 2020 yang diga- bungkan dengan tema perayaan Hari Kebangsaan telah mengajak seluruh rakyat, tanpa mengira bangsa dan agama bersatu hati menjadikan Malaysia sebuah. ne- gara maju. Dengan semarngat yang tinggi ini, mereka yakin, usaha Perdana Menteri untuk menjadikan Malay- sia negara maju menjelang tahun 2020 akan menjadi kenyataan. Encik Halim Masadini, 19, pelatih Institut Penyelidikan Per- ubatan berkata, tema Hari Ke- bangsaan tahun ini amat berse- suaian dan bertepatan sekali dengan masa dan keadaan negara. masa kini. Berasal dari Sabah, Encik Halim menjelaskan, tema Hari Ke- bangsaan tahun ini telah meng- ajak seluruh masyarakat Malaysia, tanpa mengira bangsa dan faham- an politik hidup bersatu serta ber- usaha untuk menjayakan hasrat kerajaan bagi mencapai matlamat negara maju pada tahun 2020. Guru pelatih dari Institut Baha- sa. Encik Sahidan Abdul Dani, ENCIK HALIM ENCIK DICK RIDDER. yang bersejarah ini. Cik Tomoko Kaneko, 18, pe- lancong dari Jepun berkata, sam- butan hari kemerdekaan negara ini sungguh meriah dan dia ber- asa amat gembira kerana berke- sempatan untuk turut menyaksit kan sambutan ini. Cik Tomoko yang pertama kali menjejakkan kaki di negara ini berkata, sambutan Hari Ke-l- bangsaan seperti ini tidak permahat dibuat di negaranya. Dia yang masıh menuntut di salah sebuah universiti di negara- nya berpendapat, rakyat Malaysia sungguh bernasib baik kerana da- pat hidup dalam sebuah negara yang aman dan jauh dari segala bentuk peperangan. Encik Dick Ridder, 57, ber- ENCIK SAHIDAN yang sama, untuk itu, kerjasama Now that's a big PP energy (Note: Encik means Mr.) From a 1991 newspaper extract.
Agama: kepada rakyat
 UALA LUMPUR 31 Ogos -
 KTema Hari Kebangsaan tahun
 ini - Wawasan 2020 - telah mem-
 beri semangat baru kepada selu-
 ruh rakyat Malaysia untuk berusa-
 ha dengan lebih gigih bagi men-
 capai matlamat yang diilhamkan
 oleh Perdana Menteri.
 Dalam tinjauan yang dibuat
 oleh Mingguan Malaysia hari ini,
 orang ramai berpendapat, sema-
 ngat Wawasan 2020 yang diga-
 bungkan dengan tema perayaan
 Hari Kebangsaan telah mengajak
 seluruh rakyat, tanpa mengira
 bangsa dan agama bersatu hati
 menjadikan Malaysia sebuah. ne-
 gara maju.
 Dengan semarngat yang tinggi
 ini, mereka yakin, usaha Perdana
 Menteri untuk menjadikan Malay-
 sia negara maju menjelang tahun
 2020 akan menjadi kenyataan.
 Encik Halim Masadini, 19,
 pelatih Institut Penyelidikan Per-
 ubatan berkata, tema Hari Ke-
 bangsaan tahun ini amat berse-
 suaian dan bertepatan sekali
 dengan masa dan keadaan negara.
 masa kini.
 Berasal dari Sabah, Encik Halim
 menjelaskan, tema Hari Ke-
 bangsaan tahun ini telah meng-
 ajak seluruh masyarakat Malaysia,
 tanpa mengira bangsa dan faham-
 an politik hidup bersatu serta ber-
 usaha untuk menjayakan hasrat
 kerajaan bagi mencapai matlamat
 negara maju pada tahun 2020.
 Guru pelatih dari Institut Baha-
 sa. Encik Sahidan Abdul Dani,
 ENCIK HALIM
 ENCIK DICK RIDDER.
 yang bersejarah ini.
 Cik Tomoko Kaneko, 18, pe-
 lancong dari Jepun berkata, sam-
 butan hari kemerdekaan negara
 ini sungguh meriah dan dia ber-
 asa amat gembira kerana berke-
 sempatan untuk turut menyaksit
 kan sambutan ini.
 Cik Tomoko yang pertama kali
 menjejakkan kaki di negara ini
 berkata, sambutan Hari Ke-l-
 bangsaan seperti ini tidak permahat
 dibuat di negaranya.
 Dia yang masıh menuntut di
 salah sebuah universiti di negara-
 nya berpendapat, rakyat Malaysia
 sungguh bernasib baik kerana da-
 pat hidup dalam sebuah negara
 yang aman dan jauh dari segala
 bentuk peperangan.
 Encik Dick Ridder, 57, ber-
 ENCIK SAHIDAN
 yang sama, untuk itu, kerjasama
Now that's a big PP energy (Note: Encik means Mr.) From a 1991 newspaper extract.

Now that's a big PP energy (Note: Encik means Mr.) From a 1991 newspaper extract.

Agama: The Mwanza flat-headed rock agama aka the Spider-Man agama can't spin webs but can climb up vertical walls with ease.
Agama: The Mwanza flat-headed rock agama aka the Spider-Man agama can't spin webs but can climb up vertical walls with ease.

The Mwanza flat-headed rock agama aka the Spider-Man agama can't spin webs but can climb up vertical walls with ease.

Agama: TONA NMORAENG aGama This is Mr Sparkle-O. He is not our cat. (Sunflowers drying out for seeds)
Agama: TONA
 NMORAENG
 aGama
This is Mr Sparkle-O. He is not our cat. (Sunflowers drying out for seeds)

This is Mr Sparkle-O. He is not our cat. (Sunflowers drying out for seeds)

Agama: Tiny Shield-Tailed Agama looks like it's asleep in its sleeping bag. Hatching is hard work.
Agama: Tiny Shield-Tailed Agama looks like it's asleep in its sleeping bag. Hatching is hard work.

Tiny Shield-Tailed Agama looks like it's asleep in its sleeping bag. Hatching is hard work.

Agama: Himalayan agama doing some sunbathing
Agama: Himalayan agama doing some sunbathing

Himalayan agama doing some sunbathing

Agama: A random starred agama lizard that i find.
Agama: A random starred agama lizard that i find.

A random starred agama lizard that i find.

Agama: The blue-headed Agama lizard
Agama: The blue-headed Agama lizard

The blue-headed Agama lizard

Agama: JENAZAH SEORANG WARGA DITOLAK KARENA BERAGAMR NON MUSLIM Koodinator Gusdurian Mojokerto, Imam Maliki yang mengawal kasus ini mengatakan bahwa sebelumnya warga sepakat jika pemakaman tanpa ritual kristen dan tanda salib. Pihak keluarga yang merupakan satu-satunya non-muslim di desa itu pun sepakat dengan syarat yang diajukan oleh para warga. Namun setelsh lewat dua hari setelah pemakaman, penolakan kembali muncul dari pada warga. Mereka menolak dengan alasan area pemakaman itu milik orang islam, tanahnya bukan tanah desa. Alasan lainnya karena kuburan itu dipenuhi kuburan muslim dan tak boleh dicampur dengan jenazah dari agama lain. ⠀ "Tanah itu tanah wakaf untuk orang Muslim, itu yang menjadi alasan penolakan. Warga yang menolak, tahu itu makamnya untuk Muslim," ujar Imam, melansir CNN Indonesia. Pegiat Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Aan Anshori dalam unggahan di akun Facebooknya mengatakan bahwa anak almarhumah bernama Novi hanya diam mengetahui penolakan warga. Sebagai warga desa, Novi berpendapat harusnya mereka juga mendapat layanan pemakaman yang sama tanpa memandang perbedaan agama. Atas masalah ini, Penggerak Gusdurian Mojokerto, Kukun Triyoga mengatakan musyawarah kembali dilakukan. Musyawarah itu dihadiri oleh pihak keluarga, perangkat desa, Polresta Mojokerto, Kodim, Kecamatan, Kelurahan, dan masyarakat sekitar. Solusi masalah ini adalah, adanya kesepakatan makam akan dipindahkan ke area pemakaman non-muslim. Pihak keluarga sudah menerima kesepakatan ini dengan lapang dada. Namun karena pemakaman non-muslim belum tersedia, untuk sementara makam belum dibongkar. Pemindahan jenazah akan dilakukan usai pemerintah menyediakan lahan untuk pemakaman non-muslim. ⠀ "Kami dari Gusdurian sebenarnya ingin makam Bu Nunuk tetap di desa itu. Kami menuntut ada fasilitas Desa Ngares Kidul untuk makam non-Muslim," kata Kukun. Pihak aparat meminta waktu 6 bulan untuk menyediakan lahan pemakaman non-muslim. Jika sudah tersedia, jenazah akan segera dipindahkan. ⠀ What do you think guys?? Tag teman kalian ya Follow @sejarah_mitos
Agama: JENAZAH SEORANG WARGA
 DITOLAK KARENA BERAGAMR
 NON MUSLIM
Koodinator Gusdurian Mojokerto, Imam Maliki yang mengawal kasus ini mengatakan bahwa sebelumnya warga sepakat jika pemakaman tanpa ritual kristen dan tanda salib. Pihak keluarga yang merupakan satu-satunya non-muslim di desa itu pun sepakat dengan syarat yang diajukan oleh para warga. Namun setelsh lewat dua hari setelah pemakaman, penolakan kembali muncul dari pada warga. Mereka menolak dengan alasan area pemakaman itu milik orang islam, tanahnya bukan tanah desa. Alasan lainnya karena kuburan itu dipenuhi kuburan muslim dan tak boleh dicampur dengan jenazah dari agama lain. ⠀ "Tanah itu tanah wakaf untuk orang Muslim, itu yang menjadi alasan penolakan. Warga yang menolak, tahu itu makamnya untuk Muslim," ujar Imam, melansir CNN Indonesia. Pegiat Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Aan Anshori dalam unggahan di akun Facebooknya mengatakan bahwa anak almarhumah bernama Novi hanya diam mengetahui penolakan warga. Sebagai warga desa, Novi berpendapat harusnya mereka juga mendapat layanan pemakaman yang sama tanpa memandang perbedaan agama. Atas masalah ini, Penggerak Gusdurian Mojokerto, Kukun Triyoga mengatakan musyawarah kembali dilakukan. Musyawarah itu dihadiri oleh pihak keluarga, perangkat desa, Polresta Mojokerto, Kodim, Kecamatan, Kelurahan, dan masyarakat sekitar. Solusi masalah ini adalah, adanya kesepakatan makam akan dipindahkan ke area pemakaman non-muslim. Pihak keluarga sudah menerima kesepakatan ini dengan lapang dada. Namun karena pemakaman non-muslim belum tersedia, untuk sementara makam belum dibongkar. Pemindahan jenazah akan dilakukan usai pemerintah menyediakan lahan untuk pemakaman non-muslim. ⠀ "Kami dari Gusdurian sebenarnya ingin makam Bu Nunuk tetap di desa itu. Kami menuntut ada fasilitas Desa Ngares Kidul untuk makam non-Muslim," kata Kukun. Pihak aparat meminta waktu 6 bulan untuk menyediakan lahan pemakaman non-muslim. Jika sudah tersedia, jenazah akan segera dipindahkan. ⠀ What do you think guys?? Tag teman kalian ya Follow @sejarah_mitos

Koodinator Gusdurian Mojokerto, Imam Maliki yang mengawal kasus ini mengatakan bahwa sebelumnya warga sepakat jika pemakaman tanpa ritual...

Agama: Shri Vidya Ratna Sutras Thou who has stolen the left half of the body of Shambhu art yet methinks dissatisfied therewith. It would seem that the other half has been stolen also, so that Thou art now red and three-eyed, weighted with two breasts and with the whole of the crescent moon Thou art crowned-Wave of Bliss V23, Woodroffe translation This brief ork, available in an iTrans Sanskrit version elsewhere on this site, gives in a concise form details of Devi Lalita, the Triple Goddess, Mahatripurasundari, along with her attendant and subsidiary forms with their yantras and mantras. It is apparent from the work below that Lalita is outside or above the cardinal points, in the palace of gems island. The throne she occupies is surrounded by four gates, each presided over by a vidya (Devi as sound). The whole work, in the original Sanskrit, uses a number code for the yantras and vidyas (mantras) of the different retinues, with consonants representing numbers, vowels zero on The vidya (translated here as female excellence), the form of the Devi, and her yantra are all one Below, and before our translation, is the English introduction to the Sanskrit text, published in 1924 as Volume Il of the Princess of Wales Sarasvati Bhavana series, written by Narayana Shastri Khiste, and out of copyright. The Sanskrit text as published in that text has jumbled the numbers We apologise in advance for any defects in our translation, and welcome corrections. Introduction The Vidyaratna Sutra is an interesting work on Tripura Agama attributed to Gaudapada. Though the identity of this author is not yet established, it seems probable that he was the same as the Parama Guru of the great Shankaracharya. That Shankaracharya was also a Tantric teacher of the Tripura Line is now beyond doubt and it is well known that Gaudapada was the author of a stotra called Subhagodaya, which sings the glories of the Supreme Goddess in the form of Tripura Bhaskara Raya in his Saubhagyabhaskara refers to and quotes from Shri Vidyaratna sutra as a work of Gaudapada The author of the Commentary on the sutras, also published with the text (as far as available), was one Shankaraanya who calls himself a pupil of Vidyaranya muni. He must be distinguished from Shankarananda, another pupil of Vidyaranya, whose style of composition as evident from his numerous commentaries on the Upanisads is widely different from that of the present author Though Shankararanya associates himself with the name of the great Vidyaranya, his fame will not thereby be ensured. The whole commentary bears traces of grammatical aberrations, faulty Sanskrit and lack of mastery of the subject Assuming that the author did not wully beguile his relations, he may be assigned to the 14th or 15th Century AD The sutras of Gaudapada are 101 in number, of which the first 21 only have been commented upon. The commentary did not extend further, the author observing that as the remaining sutras are plain in meaning they do not call for notes. Sri Vidya Ratnasutra by Gaurpada From Shivshakti.com | Devi | Shiva
Agama: Shri Vidya Ratna Sutras
 Thou who has stolen the left half of the body of Shambhu art yet methinks dissatisfied therewith. It would
 seem that the other half has been stolen also, so that Thou art now red and three-eyed, weighted with
 two breasts and with the whole of the crescent moon Thou art crowned-Wave of Bliss V23, Woodroffe
 translation
 This brief ork, available in an iTrans Sanskrit version elsewhere on this site, gives in a concise form
 details of Devi Lalita, the Triple Goddess, Mahatripurasundari, along with her attendant and subsidiary
 forms with their yantras and mantras.
 It is apparent from the work below that Lalita is outside or above the cardinal points, in the palace of gems
 island. The throne she occupies is surrounded by four gates, each presided over by a
 vidya (Devi as sound). The whole work, in the original Sanskrit, uses a number code for the yantras and
 vidyas (mantras) of the different retinues, with consonants representing numbers, vowels zero
 on
 The vidya (translated here as female excellence), the form of the Devi, and her yantra are all one
 Below, and before our translation, is the English introduction to the Sanskrit text, published in 1924 as
 Volume Il of the Princess of Wales Sarasvati Bhavana series, written by Narayana Shastri Khiste, and out
 of copyright. The Sanskrit text as published in that text has jumbled the numbers
 We apologise in advance for any defects in our translation, and welcome corrections.
 Introduction
 The Vidyaratna Sutra is an interesting work on Tripura Agama attributed to Gaudapada. Though the
 identity of this author is not yet established, it seems probable that he was the same as the Parama Guru
 of the great Shankaracharya. That Shankaracharya was also a Tantric teacher of the Tripura Line is now
 beyond doubt and it is well known that Gaudapada was the author of a stotra called Subhagodaya, which
 sings the glories of the Supreme Goddess in the form of Tripura
 Bhaskara Raya in his Saubhagyabhaskara refers to and quotes from Shri Vidyaratna sutra as a work of
 Gaudapada
 The author of the Commentary on the sutras, also published with the text (as far as available), was one
 Shankaraanya who calls himself a pupil of Vidyaranya muni. He must be distinguished from
 Shankarananda, another pupil of Vidyaranya, whose style of composition as evident from his numerous
 commentaries on the Upanisads is widely different from that of the present author
 Though Shankararanya associates himself with the name of the great Vidyaranya, his fame will not
 thereby be ensured. The whole commentary bears traces of grammatical aberrations, faulty Sanskrit and
 lack of mastery of the subject
 Assuming that the author did not wully beguile his relations, he may be assigned to the 14th or 15th
 Century AD
 The sutras of Gaudapada are 101 in number, of which the first 21 only have been commented upon. The
 commentary did not extend further, the author observing that as the remaining sutras are plain in meaning
 they do not call for notes.
Sri Vidya Ratnasutra by Gaurpada From Shivshakti.com | Devi | Shiva

Sri Vidya Ratnasutra by Gaurpada From Shivshakti.com | Devi | Shiva